Laskar Merah Putih tangkap 2 alat berat Malaysia

LMP (Sambas) - Dua Alat Berat perusahaan Sawit Ladang Dapak Pasir Tengah Malaysia, 11 Oktober 2011 lalu ditangkap warga Dusung Aping, Desa Aruk, Kecamatan Sajingan Besar sekitar jam 12.30 Wib, kedua alat berat ini beraktivitas membuat parit perkebunan Sawit disepanjang perbatasan patok D 233 hingga patok D 334 yang masuk diwilayah Indonesia, merusak kebun warga dan membuang limbah air parit ke Indonesia.

Bahtiar pemilik kebun yang dirusak menjelaskan, dua alat berat perusahaan Sawit Malaysia itu membuat parit hingga merusak lebih kurang 500 meter kebun saya, selain itu, aktivitas perusahaan tersebut masuk diwilayah Indonesia dan menggusur patok perbatasan D 333 dan D 334, sehingga hilang, “akibatnya, pihak Libas Pamtas Sajingan Besar harus memasang patok sementara pakai kayu Sawit yang diukur sesuai titik kordinat bersama-sama masyarakat, “kata Bahtiar sambil menunjukan Patok D 333 yang dibuat sementara menggunakan Dahan Sawit.

Bahtiar yang merupakan anggota Laskar Merah Putih (LMP) Kabupaten Sambas ini menjelaskan, ia melakukan penangkapan alat berat Malaysia berenam, setelah itu saya minta kedua operator alat berat itu agar membawa alat beratnya ke KM 28 Aruk, karena mengakui kesalahannya, maka kedua operator ini mengikuti arahan kita mengantar alat berat tersebut, “dari kedua operator ini, seorangnya adakah TKI asal Satai, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas yang bekerja di Malaysia, setelah itu kedua operator tersebut kami antar pulang pakai motor, dan meminta menyampaikan kepada perusahaannya agar mengganti rugi kebun yang rusak, “jelasnya.

Menurut Bahtiar, dasar penahanan kedua alat berat tersebut, karena membuat parit yang merusak kebun Karet, Tengkawang, Durian dan Cempedak, selain merusak kebun saya, pekerja Malaysia ini membuat parit ditanah Indonesia dan membuang limbah airnya ditanah Indonesia, bahkan patok batas negara D 333 dan Patok D 334 digusur mereka, “kalau saja tidak ketahuan, mungkin aktivitasnya mereka bisa terus berlanjut, mereka membuat jalan sepanjang perbatasan dan membuat parit, “bebernya.

Disinggung apakah ada upaya perampasan alat berat dengan paksa terhadap pengemudi Eksapator Malaysia, ditegaskan Bahtiar tidak ada, kita sudah bicarakan kepada operator alat berat tersebut secara baik-baik, karena mereka mengakui kesalahannya dan telah merusak kebun saya maka mereka menurut saat kita minta agar alatnya ditahan sementara di KM 28 Aruk, dan mememinta kedua operator tersebut menyampaikan kepada pihak perusaan agar memberikan ganti rugi kebun yang rusak, “jadi tidak ada unsur paksaan dan perampasan, hanya saya kesal saja kebun saya dirusak, “singgungnya.

Kapten Inf Suirwan Danki Libas Pamtas Sajingan Besar bersama Letda Inf Herry Prabowo Danramil Sajingan Besar, Uray Edi Mulia Wakil Ketua Laskar Merah Putih Kalbar serta beberapa masyarakat meninjau lokasi pengerjaan alat berat perusahaan Sawit Malaysia membenarkan adanya penangkapan alat berat milik perusahaan oleh masyarakat, “dari lokasi pekerjaan ditemukan adanya pengerukan parit yang masuk diwilayah Indoensia, membuang limbah air kebun sawit ke Indonesia serta hilangnya patok D 333 dan D 334, “katanya

Setelah mendapat laporan warga adanya alat berat yang ditahan, saya bersama Danramil bertindak cepat meminta kepada warga agar jangan merusak alat berat tersebut, “kita imbau masyarakat dapat menyelesaikan ini dengan baik dan tidak melakukan pengrusakan agar alat berat, untuk mengantisipasinya, maka kedua alat berat ini setiap malam selalu dijaga TNI bersama bersama masyarakat agar tidak dirusak ataupun ada yang hilang, ini kita lakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman atas tindakan yang dilakukan masyarakat, “Danki Libas dan Danramil Sajingan Besar ini.

Uray Edi Mulia Wakil Ketua Mada (Markas Daerah) Laskar Merah Putih (LMP) Kalbar yang sudah 10 tahun berkecimpung di organisasi ini turut serta meninjau patok batas mengaku medan sangat sulit dan jarak tempuh sangat jauh, “untuk menjaga wilayah perbatasan bukanlah pekerjaan mudah, seharusnya mobilisasi TNI yang bertugas diwilayah perbatasan dapat diperhatikan, berbeda dengan Malaysia, disepanjang perbatasan sudah dibuat jalan kendaraan serta parit batas yang dilindungi perkebunan Sawit yang berusia lebih kurang 10 tahun, sehingga pesisir perbatasan Malaysia menjadi rindang, “kata Uray Edi.

Ditempat terpisah, Ketua Umum Laskar Merah Putih, Neneng A Tuty SH turut senang dan mensupport apa yang dilakukan Laskar di Sajingan Sambas. " Untuk kepentingan dan kesatuan NKRI, adalah visi dan misi LMP, berharap secepatnya kasus ini di proses oleh pemda setempat sesuai hukum yang berlaku, " kata Neneng.

Neneng menambahkan, Dia juga bangga atas kinerja Markas Daerah Laskar Merah Putih  Kalbar yang di pimpim oleh Uray Edi Mulia. Beliau sebelumnya sudah 9 tahun menjadi ketua Mada Kalbar ketika almarhum Eddy Hartawan masih hidup. (Muhammad Ridho Mawardi/Tim)

Sumber : Objective News